Dalam dunia pengelolaan jurnal ilmiah, tidak sedikit penerbit yang akhirnya merasa cukup ketika sistem sudah berjalan: OJS aktif, edisi terbit tepat waktu, penulis datang, reviewer tersedia, dan biaya operasional tertutup. Pada titik ini, pengelola jurnal telah berperan sebagai pengusaha—mengelola proses, layanan, dan keberlanjutan.
Namun, pertanyaannya sederhana: apakah peran penerbit jurnal seharusnya berhenti di sana?
Diskursus internasional menunjukkan bahwa pengelolaan jurnal tidak lagi dipahami semata sebagai aktivitas teknis. Penerbit ilmiah modern dipandang memiliki peran strategis dalam menjaga integritas riset, meningkatkan kualitas penulis, serta memastikan pengetahuan tersampaikan secara bermakna. Laporan dari Elsevier menegaskan bahwa penerbit berperan penting dalam research integrity, pengembangan kapasitas penulis, dan kualitas komunikasi ilmiah, bukan hanya dalam proses produksi artikel.
Jika kita melihat logika nilai dalam kehidupan sehari-hari, menjual sesuatu apa adanya tentu berbeda nilainya dengan mengolah, mengajarkan, dan menggerakkan orang lain untuk ikut terlibat. Nilai tidak hanya bertambah karena harga, tetapi karena makna dan dampak. Hal yang sama berlaku dalam penerbitan ilmiah.
Seperti halnya nilai yang tumbuh ketika sebuah produk diolah menjadi pengetahuan dan kemudian menjadi gerakan, jurnal ilmiah pun berkembang dari sekadar terbitan menuju ekosistem keilmuan.

Pengelola jurnal yang hanya fokus pada “menerbitkan artikel” sejatinya baru menjalankan fungsi dasar. Ini penting, tetapi masih tahap awal. Pada tahap berikutnya, jurnal dapat berperan sebagai ruang belajar: membantu penulis memahami standar ilmiah, membimbing peneliti pemula, memperbaiki kualitas naskah, dan menanamkan etika publikasi. Di sini, jurnal tidak lagi sekadar wadah unggah artikel, melainkan bagian dari proses tumbuhnya pengetahuan.
Pandangan ini diperkuat oleh kajian di jurnal Learned Publishing, yang menunjukkan bahwa jurnal yang aktif melakukan pembinaan editorial dan edukasi publikasi berkontribusi nyata terhadap peningkatan kualitas riset, khususnya di negara berkembang. Dalam kerangka ini, penerbit tidak lagi sekadar gatekeeper, tetapi juga educator dalam ekosistem akademik.
Lebih jauh lagi, penerbit dapat mengambil peran sebagai penggerak ekosistem keilmuan. Ia tidak hanya menunggu naskah masuk, tetapi aktif membangun komunitas: mempertemukan penulis, editor, reviewer, dan institusi; mendorong diskusi ilmiah; serta menjembatani hasil riset dengan kebutuhan masyarakat. Pada tahap ini, jurnal bukan lagi produk, melainkan gerakan intelektual.
Konsep ini sejalan dengan literatur kebijakan sains yang melihat jurnal dan penerbit sebagai simpul dalam knowledge ecosystem. Penelitian yang dimuat dalam Research Policy menekankan bahwa keberlanjutan ilmu pengetahuan sangat ditentukan oleh aktor perantara termasuk penerbit yang mampu menghubungkan produksi pengetahuan dengan konteks sosial dan kebijakan publik.
Perbedaan peran ini menentukan arah keberlanjutan jurnal. Jurnal yang hanya dikelola sebagai “usaha” mungkin bertahan secara administratif, tetapi jurnal yang dikelola sebagai ekosistem akan bertahan secara relevansi. Ia hidup, berkembang, dan memberi dampak.
Hal ini juga selaras dengan pandangan global tentang keberlanjutan publikasi ilmiah. UNESCO, melalui rekomendasi Open Science, menekankan bahwa masa depan penerbitan ilmiah ditentukan oleh nilai sosial, keterbukaan, dan kontribusinya bagi masyarakat luas, bukan semata oleh model bisnis yang digunakan.
Penutup – Perspektif Rezki Media
Di Rezki Media, kami meyakini bahwa penerbitan ilmiah bukan sekadar aktivitas teknis, dan penerbit bukan sekadar pengusaha. Menjadi pengelola jurnal berarti mengambil tanggung jawab yang lebih luas: menjaga integritas ilmu, mendampingi proses belajar akademik, serta ikut membangun budaya pengetahuan yang sehat dan berkelanjutan.
Karena itu, bagi kami, pertanyaan utamanya bukan “berapa banyak artikel yang terbit?”, melainkan “nilai apa yang ditinggalkan oleh setiap terbitan?”.
Pengelola jurnal boleh memulai sebagai pengusaha, tetapi sudah sepatutnya melangkah lebih jauh—menjadi pendidik, fasilitator, dan penggerak ekosistem keilmuan.
Di situlah penerbitan menemukan maknanya.
— Rezki Media
Referensi
- Elsevier. (2020). The role of publishers in advancing research integrity and quality. Elsevier Publishing Insights.
- Committee on Publication Ethics (COPE). (2019). Core practices.
- Smart, P. (2019). Building author capacity and journal quality in scholarly publishing. Learned Publishing, 32(4), 395–402.
- Franceschet, M., & Costantini, A. (2021). The role of intermediaries in research ecosystems. Research Policy, 50(9).
- UNESCO. (2021). UNESCO Recommendation on Open Science.