Jl. Raya Bendorejo, RT.18/RW.09, Kec. Pogalan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur 66371
Hubungi Kami
“You Put My Name, I Put Your Name”: Dari Proses Penelitian hingga Tantangan Etika Publikasi Ilmiah

Dalam ekosistem akademik modern, proses penelitian hingga publikasi jurnal bukan hanya persoalan metodologi, tetapi juga integritas dan etika ilmiah. Alur penelitian yang ideal—mulai dari studi literatur, penyusunan proposal, persetujuan etik, pengumpulan data, hingga publikasi—harus dijalankan secara sistematis dan bertanggung jawab sesuai prinsip yang direkomendasikan oleh Committee on Publication Ethics (COPE).

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa praktik etika publikasi tidak selalu berjalan sebagaimana mestinya. Salah satu fenomena yang menjadi perhatian global adalah praktik yang dikenal sebagai “You Put My Name, I Put Your Name”, yaitu bentuk penyimpangan kepengarangan di mana individu dicantumkan sebagai penulis tanpa kontribusi yang signifikan (Oyenuga et al., 2026).

Praktik ini mencerminkan authorship misappropriation atau penyalahgunaan atribusi kepengarangan, yang dalam beberapa konteks bahkan telah menjadi “budaya akademik” akibat tekanan publikasi, sistem promosi berbasis jumlah artikel, serta relasi hierarkis dalam institusi pendidikan.

Alur Ideal Penelitian hingga Publikasi

Secara normatif, proses penelitian mengikuti tahapan berikut:

  1. Studi literatur → identifikasi masalah & kerangka teori
  2. Penyusunan proposal penelitian
  3. Persetujuan etik (ethical clearance)
  4. Pelaksanaan penelitian
  5. Analisis data & interpretasi
  6. Pelaporan hasil penelitian
  7. Penulisan artikel ilmiah (IMRAD)
  8. Pengiriman artikel ke jurnal
  9. Persetujuan semua penulis (authorship agreement)
  10. Proses review & revisi
  11. Publikasi artikel

Dalam setiap tahap tersebut, prinsip etika seperti kejujuran, transparansi, akuntabilitas, dan keadilan kontribusi harus dijaga.

Tantangan Etika: Dari Plagiarisme hingga Kepengarangan Fiktif

Selain masalah kepengarangan, pelanggaran etika publikasi juga mencakup:

  • Plagiarisme (termasuk self-plagiarism)
  • Manipulasi data
  • Ketidakjelasan kontribusi penulis
  • Kurangnya pemahaman terhadap panduan jurnal

Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa bahkan panduan penulis jurnal seringkali tidak dipahami secara optimal oleh penulis, sehingga berkontribusi pada terjadinya pelanggaran etika secara tidak sengaja (Sun, 2022).

Selain itu, faktor budaya, konteks sosial, dan sistem institusi juga memainkan peran penting dalam membentuk praktik etika penelitian, sehingga pendekatan etika perlu mempertimbangkan konteks lokal dan global secara bersamaan (Appiah, Weobong, & Raviola, 2026).

Budaya Akademik dan Normalisasi Pelanggaran

Fenomena seperti “titip nama” tidak berdiri sendiri.
Penelitian terbaru dari Perry et al. (2026) menunjukkan bahwa pelanggaran etika akademik seringkali dipengaruhi oleh:

  • iklim institusi
  • norma sosial (peer norms)
  • tekanan prestasi dan karier
  • sikap moral individu

Ketika praktik-praktik ini terjadi secara berulang, maka terbentuklah normalisasi pelanggaran, yang membuat perilaku tidak etis menjadi dianggap “biasa” dalam sistem akademik.

Tantangan Baru: AI dan Integritas Akademik

Perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), menambah kompleksitas baru dalam etika akademik.

Studi terbaru oleh Abuadas, M. dan Albikawi, Z. mengembangkan instrumen AI Ethical Awareness and Academic Integrity Scale (AI-EAAI) untuk mengukur kesadaran etika dan integritas akademik dalam penggunaan AI di pendidikan tinggi.

Penelitian ini menemukan bahwa integritas akademik dalam era AI mencakup enam dimensi utama:

  • transparansi
  • keadilan
  • privasi
  • akuntabilitas
  • dampak sosial
  • integritas akademik

Instrumen tersebut menunjukkan reliabilitas tinggi (Cronbach’s alpha = 0.92) dan menjadi alat penting dalam memastikan penggunaan AI yang etis dalam pendidikan.

Hal ini menegaskan bahwa integritas akademik tidak hanya terkait proses penelitian tradisional, tetapi juga adaptasi terhadap teknologi baru.

Menuju Praktik Publikasi yang Berintegritas

Alur penelitian hingga publikasi bukan sekadar prosedur administratif, tetapi merupakan proses yang sarat nilai etika.

Menghadapi tantangan seperti plagiarisme, manipulasi data, hingga penyalahgunaan kepengarangan, komunitas akademik perlu kembali menegaskan komitmen terhadap prinsip:

  • kejujuran ilmiah
  • transparansi kontribusi
  • tanggung jawab kolektif penulis
  • kepatuhan terhadap standar etika global

Dengan demikian, publikasi ilmiah tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga menjaga kepercayaan terhadap dunia akademik itu sendiri.

Rujukan

Committee on Publication Ethics (COPE). (n.d.). Principles of Transparency and Best Practice in Scholarly Publishing. https://publicationethics.org

Oyenuga, M. O., Apata, S. B., Oladele, T. O., & Jeresa, S. (2026). You Put my name, I Put your name: exploring unethical practices in academic publishing using the authorship misappropriation Diamond framework. Ethics & Behavior. https://doi.org/10.1080/10508422.2026.2661701

Sun, Y.-C. (2023). How effectively do journal author guides communicate issues regarding plagiarism? A study of graduate students in Taiwan. Ethics & Behavior, 33(4), 304–321. https://doi.org/10.1080/10508422.2022.2065635

Appiah, R., Weobong, B., & Raviola, G. (2026). Bridging ethics and culture: a co-created, culturally sensitive informed consent framework for research in Ghana. Ethics & Behavior, 36(3), 217–234. https://doi.org/10.1080/10508422.2025.2512069

Perry, A. H., Rettinger, D. A., Stephens, J. M., et al. (2026). From institutional climate to moral attitudes: examining theoretical models of academic misconduct. Ethics & Behavior, 36(3), 199–216. https://doi.org/10.1080/10508422.2025.2514577

Abuadas, M., & Albikawi, Z. (2026). AI ethical awareness and academic integrity in higher education: development and validation of a new scale. Ethics & Behavior, 36(2), 125–142. https://doi.org/10.1080/10508422.2025.2511336

Web Analytics Made Easy - Statcounter